Minggu, 23 Juni 2013
MEMAHAMI EKSISTENSI MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
PENDAHULUAN
Banyak manusia yang belum mengerti tentang dirinya. Siapakah manusia itu. Bagaimana ia diciptakan. Untuk apa ia datang ke alam dunia. Seorang sarjana Amerika yaitu Dr. Alexis Carrel mengemukakan jika kemajuan ilmu pengetahuan tentang benda-benda lebih besar dari pada pengetahuan tentang makhluk hidup (manusia) dapat menyebabkan bencana kepada manusia. Karena itu, Sayyid Qutub seorang Ulama dari Mesir menyatakan mengetahui hakikat manusia dari posisi alam semesta dan tujuan adanya merupakan jalan keselamatan dan kebahagiaan.
Ayat yang pertama turun dalam Al-Qur’an merupakan perintah untuk menafakuri manusia diciptakan. Al-Qur’an merupakan sumber tertinggi dalam memahami manusia itu sendiri. Kemampuan akal terbatas dalam memahami penciptaan manusia sebagai makhluk istimewa. Dalam tulisan ini dibahas beberapa konsep tentang manusia dilandasi dalil naqli maupun pendapat para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
HAKIKAT MANUSIA
Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah.
Selain itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbunya manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual (Jalaluddin, 2003: 14).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan kehidupan. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat manusia dari berbagai presfektif
1. Manusia Dalam Perspektif Filsafat
Para ahli pikir filsafat mencoba memaknai hakikat manusia. Mereka mencoba menamai manusia sesuai dengan potensi yang ada pada manusia itu.
Berdasarkan potensi yang ada, para ahli pikir dan ahli filsafat tersebut memberi nama pada diri manusia di muka bumi ini, para ahli pikir dan ahli filsafat tersebut memberi nama pada diri manusia dengan sebutan-sebutan sebagai berikut:
a. Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
b. Animal Rational, artinya binatang yang berpikir.
c. Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
d. Homo Faber, yaitu makhluk yang terampil, pandai membuat perkakas, atau disebut juga tool making animal, yaitu binatang yang pandai membuat alat.
e. Zoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
f. Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis.
g. Homo Religius, yaitu makhluk yang beragama.
(Syahminan Zaini, 1980: 5-6)
Berbicara mengenai pandangan filsafat tentang hakikat manusia, ada 4 aliran yang ditawarkan oleh para ahli filsafat. Adapun keempat aliran tersebut, seperti yang dikutip Jalaluddin dan Abdullah (1997:107-108) dan Zuhairini (1995:71-74) adalah sebagai berikut:
a. Aliran Serba Zat.
Aliran ini menyatakan bahwa yang sungguh-sunguh ada hanyalah zat atau materi. Zat atau materi itulah hakikat sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia adalah unsur alam. Oleh karena itu, hakikat manusia adalah zat atau materi.
b. Aliran Serba Ruh.
Aliran ini berpandangan bahwa hakikat segala sesuatu yang ada di dunia ini ialah ruh, termasuk juga hakikat manusia. Adapun zat atau materi adalah manifestasi ruh di atas dunia ini. Dengan demikian, jasad atau badan manusia hanyalah manifestasi atau penjelmaan ruh.
c. Aliran Dualisme.
Aliran ini menggabungkan pendapat kedua aliran di atas. Aliran ini berpandangan bahwa hakikatnya manusia terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini merupakan unsur asal, tidak tergantung satu sama lain. Jadi, badan tidak berasal dari ruh, dan sebaliknya, ruh tidak berasal dari badan. Dalam perwujudannya, manusia tidak serba dua, melainkan jadi hubungan sebab akibat yang keduanya saling mempengaruhi.
d. Aliran Eksistensialisme.
Aliran ini memandang manusia dari segi eksistensinya. Menurut aliran ini, hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. intinya, hakikat manusia adalah apa yang menguasai manusia secara menyeluruh.
2. Manusia Dalam Presfektif Pendidikan
Dalam teori yang dikembangkan di dunia Barat, dikatakan bahwa perkembangan manusia hanya dipengaruhi oleh pembawaan merupakan aliran nativisme. Sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya yang disebut empirisme. Sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi).
Hakikat wujud manusia menurut Ahmad Tafsir (2005: 34) adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa manusia mempunyai banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dimiliki. Dalam hal ini beliau membagi kecenderungan itu dalam dua garis besar yaitu cenderung menjadi orang baik dan cenderung menjadi orang jahat (2003: 35).
Gambaran tentang hakikat manusia dalam aspek psikologis mengingatkan kita pada teori superego yang dikemukakan oleh sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan yang pendapatnya banyak dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libido bitalis), sehingga penyaluran dorongan ego (nafsu lawwamah/nafsu buruk) tidak mudah menempuh jalan melalui superego (nafsu muthmainnah/nafsu baik). Karena superego (nafsu muthmainnah) berfungsi sebagai badan sensor atau pengendali ego manusia.Sebaliknya, superego pun sewaktu-waktu bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instink, intuisi, dan intelegensi –ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama– bekerja secara matang dan integral. Artinya superego bisa memberikan pembenaran pada ego manakala ego bekerja ke arah yang positif. Ego yang liar dan tak terkendali adalah ego yang negatif, ego yang merusak kualitas dan hakikat manusia itu sendiri.
3. Manusia Dalam Presfektif Al-Qur’an
a. Konsep al-Basyr
Luwes Ma’luuf (1927:36) menjelaskan, arti asal dari kata بشر ialah tempat tumbuhnya rambut, pada permukaan kulit kepala, wajah dan tubuh. Kata مباشرة diartikan ملامسة yaitu persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan, yang selanjutnya diartikan ‘ الجماع = bersetubuh.
Kata بشر Menunjukan adanya persamaan umum yang menjadi ciri pokok manusia, Firman Allah : إن نحن إلا بشر مثلكم. ابراهيم: 11yaitu: (1) berasal dari tanahإني خالق بشرا من طين . ص : 71 (2). Suka makan, minum, هذا إلا بشر مثلكم يأكل مما تأكلون منه . المؤمنون : 33 . (3) Dan manusia itu akan mati, و ما جعلنا لبشر من قبلك الخلد. الأنبياء : 34 Basyariah, ialah menunjukan adanya persamaan derajat kemanusia yang dibuat dari tanah, kembali kedalam tanah / mati, dan suka makan dan minum.
Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar adalah anak turun Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turun Adam secara keseluruhan (Aisyah Bintu Syati, 1999: 2). Menurut Abdul Mukti Ro’uf (2008: 3), kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna
Jalaluddin (2003: 19) mengatakan bahwa berdasarkan konsep basyr, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak. Sebagaimana halnya dengan makhluk biologis lain, seperti binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, yaitu:
1. Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim, pembentukan fisik (QS. 23: 12-14)
2. Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. 40: 67)
Secara sederhana, Quraish Shihab (1996: 279) menyatakan bahwa manusia dinamai basyar karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang yang lain. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini. Dan oleh pertambahan usianya, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi tua, dan akhirnya ajalpun menjemputnya (Abuddin Nata 1997: 31).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-Basyr ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-Basyr ini juga dapat tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
b. Konsep Al-Insan
Kata إنسان ialah bentuk mufrad / untuk tunggal, sama dengan katab إنس bentuk jamaknya: الناس seperti dalam An-Nas; ayat 1, أناس dalam al-Baqarah, 60, إنسيّا dalam surat Maryam; 26 dan أناسيّ dalam surat al-Furqan, 49. Kata إنسان digolongkan kepada jenis laki-laki / mudzakar, dan kadang digolongkan kepada jenis perempuan / muannast yang menunjukan pada arti ‘ taifah’ / kelompok masyarakat’
Kata Insan Menurut Ibn Madzur ( VII:306 – 314) dalam Lisan al-‘Arab dapat diambil dari tiga akar kata. Yaitu ; أنس /Anasa , أنس / Anisa dan نسي / nasia.
Pertama: Kata أنس / Anasa, artinya أبصر / ‘abshara, علم / ‘alima, إستأذن /istadzana. Kata ابصر artinya, melihat, bernalar, berfikir. Dengan itu dia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihat Kata علم artinya ‘mengetahui, berilmu, dengan ilmunya manusia bisa membedakan antara yang benar dan salah. إستأذن artinya , meminta izin, Ia makhluk beradab, terdorong untuk meminta iziz melakukan sesuatu yang bukan miliknya Dari kata ini, Insan itu makhluk yang mempunyai daya nalar, berilmu dan beradab
Kedua, أنس / ِِ anisa artinya ألفه و سكن قلبه به / alifaiu wa sakana qlbuhu bihi, artinya ; ‘ jinak’ ramah , Sebalik dari توخش / tawakhasya artinya buas. (Luwes Ma’luf : 18).. Dalam Alquran kata الإنس selalu dihubungkan dengann kata الجن , ini menunjukan lawan kata al-Insu = jinak adalah al-jinnu = buas. Kata حيوان أنيس , binatang yang betah tinggal bersama manusia., مكان أنيس temapat yang membuat betah ditempati. Orang أنيس , oarng yang أليف yang ramah dalam pergaulan.. Menurut Al-Raghib ( 24 +530) disebut demikian karena لمن كثر أنسه yaitu karena ‘banyak keramahannya’, dan juga menurut Al-Raghib, لا قوام له إلا بإنس بعضهم ببعض bahwa ia tidak dapat tegak hidup kecuali dengan bersahabat dengan ramah antara satu dengan yang lainnya. Maka dari kata ini, manusia itu makhluk yang bersahabat, ramah dalam pergaulan.
Ketiga, نسي / nasia, ialah ضدّ تذكّر / dliddu tadzakkara, , yaitu ‘lupa’ (al-munawwir: (1514), Ibnu Mandzur menyebutkan, Ada riwayat Ibn Abbas, yaitu :
إنما سمي الإنسان إنسانا لأنه عهد على نفسه فنسي . (ابن المنذور: لسان العرب )
Ini berkaitan dengan kesadaran diri, manusia lupa, manusia yang hilang kesadaran, karena itu hilang baginya kewajiban terhadap Tuhannya. Dari sini insan itu makhluk yang punya sifat lupa. .
Maka dari Itu Dedeng Rosyidin (2006:2) menyimpulkan makna الإنسان dilihat dari sisi bahasa (akar kata), artinya Makhluk yang mempunyai daya nalar, daya fikir yang dengannya dapat maju dan berkembang, Ia berilmu, yang dengan ilmunya dapat membedakan antara benar dan salah. Ia beradab, yang tidak suka merampas, mengambil haq orang lain tanpa izin. Ia ramah dalam pergaulan, bersahabat, yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan lingkungan. Ia kadang lupa, yang tidak selalu ada dalam kebenaran.
Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini, tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik (Abuddin Nata, 1997: 29).
Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi (Jalaluddin, 2003: 23). Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian, ataupun benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan berperadaban.
C. Konsep Bani Adam
Adapun kata bani adam dan zurriyat Adam, yang berarti anak Adam atau keturunan Adam, digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya (Quraish Shihab, 1996: 278). Dalam Al-Qur’an istilah bani adam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat (Abdul Mukti Ro’uf, 2008: 39).
Menurut Thabathaba’i dalam Samsul Nizar (2001: 52), penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain.
PROSES KEJADIAN MANUSIA
Di dalam Alqur’an Proses kejadian Manusia dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, (Qs Al Hijr : 28)
2. Dari segumpal tanah lalu menjadi nutfah (didalam rahim), segumapl darah, segumpal daging, tulang dibungkus dengan daging dan akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna (Qs Almukminun ; 12-14)
3. Ditiupakn Ruh (Qs Alhijr : 29)
4. Sebelum ruh ditiupkan, ketika masih di alam ruh manusia telah berjanji mentauhidkan Allah (Qs Al A’raf : 172)
Dalam penciptaannya manusia dibekali dengan beberapa unsur sebagai kelengkapan dalam menunjang tugasnya. Unsur-unsur tersebut ialah : jasad ( al-Anbiya’ : 8, Shad : 34 ). Ruh (al-Hijr 29, As-Sajadah 9, Al-anbiya’ :91 dan lain-lain); Nafs (al-Baqarah 48, Ali Imran 185 dan lain-lain ) ; Aqal ( al-Baqarah 76, al-Anfal 22, al-Mulk 10 dan lain-lain); dan Qolb ( Ali Imran 159, Al-Ara’f 179, Shaffat 84 dan lain-lain ). Jasad adalah bentuk lahiriah manusia, Ruh adalah daya hidup, Nafs adalah jiwa , Aqal adalah daya fikir, dan Qolb adalah daya rasa. Di samping itu manusia juga disertai dengan sifat-sifat yang negatif seperti lemah (an-Nisa 28 ), suka berkeluh kesah ( al-Ma’arif 19 ), suka bernuat zalim dan ingkar ( ibrahim 34), suka membantah ( al-kahfi 54 ), suka melampaui batas ( al-‘Alaq 6 ) suka terburu nafsu ( al-Isra 11 ) dan lain sebagainya. Hal itu semua merupakan produk dari nafs , sedang yang dapat mengendalikan kecenderungan negatif adalah aqal dan qolb. Tetapi jika hanya dengan aqal dan qolb, kecenderungan tersebut belum sepenuhnya dapat terkendali, karena subyektif. Yang dapat mengendalikan adalah wahyu, yaitu ilmu yang obyektif dari Allah. Kemampuan seseorang untuk dapat menetralisasi kecenderungan negatif tersebut ( karena tidak mungkin dihilangkan sama sekali ) ditentukan oleh kemauan dan kemampuan dalam menyerap dan membudayakan wahyu.
Menurut Ali Syari’ati yang dikutip oleh Cecep Darmawan (2006:4), manusia adalah kontradiksi antara Allah dan Iblis, atau antara roh dan Lumpur berdasar pada QS. Al-Hijr ayat 28-29. Lumpur adalah simbol kerendahan, stagnasi, privasi mutlak, sedangkan ruh Allah adalah simbol dari gerakan tanpa henti ke arah kesempurnaan dan kemuliaa yang tidak terbatas.
Jika kita melanjutkan penelaahan, kita akan menemukan keterangan bahwa ‘ruh allah’ dan ‘lumpur’ itu hanyalah berbentuk potensi. Setiap manusia memiliki potensi roh Allah dan potensi Lumpur, sedangkan yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan itu sendiri adalah aktualisasi potensi tersebut. Sebagaimana Firman Allah dalam QS Al-Araf 179 dan QS Al-Furqan 43-44
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
Kedua ayat tersebut lanjut Cecep, memberikan dua katagori manusia berdasarkan karakteristik yang dimilikinya. Katagori pertama, yaitu manusia yang beruntung. Kelompok ini adalah manusia yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengaktualisasikan potensi mata, telinga, dan hati . katagori kedua, manusia lalai yang disejajarkan (bahkan lebih buruk) dengan binatang ternak yaitu mereka yang tidak mengoptimalkan potensi mata, telinga dan hatinya untuk mengenali kebenaran sehingga disebutnya sebagai orang yang lalai.
TUJUAN HIDUP MANUSIA
Sebagai makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan oleh Allah didunia, peranan manusia dalam kehidupan di bumi tentulah sangat vital. oleh karena itu dalam hidup manusia memiliki banyak sekali tujuan. Adapun tujuan - tujuan tersebut dapat dikelompokan menjadi dua
1. Dilihat dari arahnya, dibedakan menjadi
Tujuan Hidup vertikal : Mencari ridho Allah (QS Al- Baqoroh 207)
Tujuan hidup horizontal : kebahagiaan dan rahmat bagi semua manusia serta seluruh alam ( Al anbiya' : 107)
2. Dilihat dari segi lingkunganya :
tujuan hidup pribadi ( albaqoroh 22)
tujuan hidup anggota keluarga ( Arrum : 21)
tujuan hidup anggota lingkungan ( Al a'rof : 96 )
tujuan hidup warga negara / Bangsa ( Saba' : 15 )
tujuan hidup warga dunia ( Al qashas : 77 )
tujuan hidup alam semesta ( al anbiya : 107)
TANGGUNG JAWAB MANUSIA
1. Tanggungjawab Manusia Sebagai Hamba.
Allah SWT dengan kehendak kebijaksanaanNya telah mencipta makhluk-makhluk yang di tempatkan di alam penciptaanNya. Manusia di antara makhluk Allah dan menjadi hamba Allah SWT. Sebagai hamba Allah tanggungjawab manusia adalah amat luas di dalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.
Tanggungjawab manusia secara umum digambarkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis berikut. Dari Ibnu Umar RA katanya; “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Semua orang dari engkau sekalian adalah pengembala dan dipertanggungjawabkan terhadap apa yang digembalainya. Seorang laki-laki adalah pengembala dalam keluarganya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Seorang isteri adalah pengembala di rumah suaminya dan akan ditanya tentang pengembalaannya.Seorang khadam juga pengembala dalam harta tuannya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Maka semua orang dari kamu sekalian adalah pengembala dan akan ditanya tentang pengembalaannya.”
(Muttafaq ‘alaih)
Allah mencipta manusia ada tujuan-tujuannya yang tertentu. Manusia dicipta untuk dikembalikan semula kepada Allah dan setiap manusia akan ditanya atas setiap usaha dan amal yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan ke atas dirinya perlu dilaksanakan.
M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin (2003: 29), seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak adalah Abd Allah dalam arti dimiliki Allah. Selain itu kata Abd juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri.
Menurut M.Quraish Shihab (Jalaluddin, 2003: 29), Ja’far al-Shadiq memandang ibadah sebagai pengabdian kepada Allah baru dapat terwujud bila seseorang dapat memenuhi tiga hal, yaitu:
Menyadari bahwa yang dimiliki termasuk dirinya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
Menjadikan segala bentuk sikap dan aktivitas selalu mengarah pada usaha untuk memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam mngambil keputusan selalu mengaitkan dengan restu dan izin Allah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konsep Abd Allah, manusia merupakan hamba yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah. Yaitu dengan menta’ati segala aturan-aturan Allah.
2. Manusia Sebagai Khalifah Allah.
Antara anugerah utama Allah kepada manusia ialah pemilihan manusia untuk menjadi khalifah atau wakilNya di bumi. Dengan ini manusia berkewajiban menegakkan kebenaran, kebaikan, mewujudkan kedamaian, menghapuskan kemungkaran serta penyelewengan dan penyimpangan dari jalan Allah. Firman Allah SWT :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku jadikan di bumi seorang Khalifah. Berkata Malaikat: Adakah Engkau hendak jadikan di muka bumi ini orang yang melakukan kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami sentiasa bertasbih dan bertaqdis dengan memuji Engkau? Jawab Allah: Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.”
(Al-Baqarah:30)
Di kalangan makhluk ciptaan Allah, manusia telah dipilih oleh Allah melaksanakan tanggungjawab tersebut. Ini sudah tentu kerana manusia merupakan makhluk yang paling istimewa.Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Kami telah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan.”
(Al-Ahzab: 72)
PERJALANAN HIDUP MANUSIA
Syahminan (1980:211) membagi perjalanan hidup manusia itu ada 5 (lima) fase :
1. Fase di alam arwah, fase mengadakan perjanjian dan menerima amanat.
2. Fase di alam rahim, fase perkembangan pre natal untuk menjadi manusia
3. Fase di alam dunia, fase untuk melaksanakan janji dan amanat.
4. Fase di alam barzah, fase menunggu dan diganjar pula
5. Fase di alam akhirat, fase untuk dimintai pertanggung jawaban terhadap pelaksanaan janji dan amanat, kemudian akan dibalasi secara sempurna tentang aktifitasnya dalam melaksanakan janji dan amanat itu.
SUMBER
Abuddin Nata. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Ahmad Tafsir. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif AL-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Cecep Darmawan. 2006. Kiat Sukses Manajemen Rasulullah. Bandung: Khazanah Intelektual
Dedeng Rosyidin. 2006. Insan Rabbani. Bandung : TT
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Quraish Shihab. 1996. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan.
Syahminan. 1980. Mengenal Manusia lewat Al-Qur’an. Surabaya: PT. Bina Ilmu
Langganan:
Postingan (Atom)